Awal Kemudian Akhir

 Beberapa bulan lalu adalah awal dari pertemuanku dengan seseorang yang cukup menarik.

Bukan hal yang spesial, kita bertemu tanpa sengaja, tanpa drama, serta tanpa akhir yang terlihat. Kita menghabiskan banyak waktu, pembicaraan yang mengulang bulan lalu lagi menjadi masalah, pertemuan yang tak pernah tergambar, serta tak pernah terfikir. Bahkan setiap harinya tak pernah sedikit pun kita tak saling memberikan kabar serta salam.
Hingga saat yang takkan pernah kuharapkan tiba, hari yang seperti biasa namun menjadi akhir setelah kehilangan sesuatu yang tak seperti biasa, rasa menunggu dan kesepian kembali menyelimuti aku.
Mungkin itu yang dikatakan dengan The Last Meeting Theory, entah seberapa bodohnya aku, setelah banyaknya perpisahan tanpa tanda yang kurasakan, akhirnya aku menyadari bahwa suatu pertemuan tak pernah selamanya kekal, entah pertemuan yang dimulai dengan kesengajaan ataupun tanpa kesengajaan.
Terkadang percakapan biasa adalah akhir pertemuan dan puncak di mana kita akan dipukul oleh takdir dan terpisah jauh dari orang yang telah memberikan kenyamanan yang bahkan tak pernah kita kira. Mungkin terasa seperti suatu yang menyakitkan atau mungkin berlebihan, namun setiap hal yang datang tidak hanya membawa harapan atau rasa nyaman, namun setiap hal yang datang juga membawa pembelajaran, penyesalan, serta akhir yang meski kita sudah mengatakan ini bukanlah akhir namun akhir tetap datang dan buku akan tertutup.
Datang secara hangat dan pergi dengan dingin bukanlah sesuatu yang baik, tak lebih dari sebuah pembelajaran, mungkin aku terus kehilangan cukup banyak orang yang aku anggap spesial karena aku belum mempelajari hal yang mereka tinggalkan untukku, dan di kesekian kalinya orang yang pergi, akhirnya aku sadar bahwa memang segalanya ada hanya untuk tiada, segalanya tiada hanya untuk membuka bab baru yang membuatmu lebih baik.
Akhir yang ada tidak mungkin meninggalkan rasa sepi tanpa secarik kertas tanpa pembelajaran, dan awal yang tiba tak mungkin terus sama tanpa akhir, layaknya sebuah novel yang walau telah menghabiskan banyak bab dan buku namun tetap berakhir dan akhir tersebut bukanlah mutlak. Karena penulis yang mengakhiri novel tersebut bukan berarti ia tak melangkah maju, setiap yang kita lakukan baik itu sebuah hal baru maupun pernah kita lakukan merupakan sebuah pengalaman, dan pengalaman tersebut adalah langkah yang membuat kita mampu melangkah sedikit demi sedikit tanpa jatuh.
Mungkin tulisan yang kubuat ini tidaklah mudah dimengerti, namun saya selaku orang yang bertanggung jawab atas ini tidaklah cukup pandai dalam membuat dan merangkai kata yang dapat dicerna serta dibaca oleh mayoritas orang. Semudah setiap awal pasti memiliki akhir serta setiap akhir pasti memiliki pembelajaran, dan terkadang hari di mana kita akan menutup bab tersebut mungkin adalah hari biasa yang mirip seperti yang biasa kita lakukan setiap harinya.
Jikalau setiap kata yang saya tuliskan ini memiliki suatu hal yang tidaklah membuat seorang pembaca merasa senang, saya memohon maaf atas itu, karena saya bukanlah seorang pandai yang mampu membuat dan menyusun segala hal secara terencana dan selalu mudah dimengerti orang kebanyakan.
Setelah kalian membaca judul yang di mana sebagai awal, kini kalian telah membaca paragraf terakhir ini yang berarti awal selalu memiliki akhir yang walau tidak sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebebasan Mutlak? Bercerita atau mengkhayal?